SIKAP TOLERAN DALAM ISLAM

0
288

KHUTBAH PERTAMA:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)

أَمَّا بَعْدُ :

Jama’ah ibadah Jum’ah yang dirahmati oleh Allah,

Yang pertama dan paling utama mari kita selalu besyukur pada Allah. Kita bersyukur atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Kemudian, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada panutan kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak lupa melalui mimbar Jum’at yang mulia ini khatib mengingatkan diri khatib sendiri dan jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada siapapun. Banyak sekali ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik kepada siapapun, saling menolong, melarang dari bermusuhan, dan yang lainnya. Diantaranya adalah ayat yang sering kita dengar dalam khutbah Jum’at:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl: 90)

Ayat ini berlaku umum, tidak khusus hanya untuk sesama muslim saja. Kalau kita cermati ayat ini, kita tidak sekedar diperintahkan berbuat baik (hasan), tetapi berbuat yang paling baik (ihsan). Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Dzat yang ada di langit” (HR Abu Dawud 4941 dan Tirmidzi 1924 dan dishahihkan Albani)

Umat Islam diperintahkan untuk berbuat baik dan sayang tidak sekedar kepada sesama muslim, tetapi kepada seluruh manusia. Bahkan tidak hanya sesama manusia tetapi kepada semua makhluk, bahkan hewan-hewanpun termasuk di dalamnya. Islam mengajarkan nilai-nilai kebaikan secara universal atau lebih dikenal dengan rahmatan lil ‘alamin (rahmat seluruh alam).

Diantara nilai-nilai kebaikan yang diajarkan islam adalah islam mengajarkan untuk berperilaku moderat dan juga toleran. Islam mengajarkan untuk berperilaku moderat atau pertengahan (wasathan) dalam artian tidak ekstrim kanan tidak ekstri kiri. Tidak bengkok ke kanan dan tidak bengkok ke kiri, tetapi lurus (mustaqim). Islam agama yang wasathiyah atau pertengahan. Islam juga mengajarkan untuk besikap toleran (tasamuh) dalam seluruh sendi-sendi kehidupan, termasuk dalam beragama. Tidak ada paksaan dalam beragama (la ikroha fiddin). Tidak boleh kita mengganggu agama orang lain dan seterusnya. Islam mengajarkan untuk bersikap moderat dan toleran dalam makna yang sebenarnya. Namun, jangan dipalingkan atau selewengkan hingga mencampurkan adukan agama atau keyakinan. Ini tentu tidak benar. Ada sebagian orang yang atas nama toleransi kemudian mencampuradukkan agama dan keyakinan. Ini sejatinya malah menodai makna toleransi itu sendiri.   

Jama’ah rahimakumullah,

Oleh karena itu, mari dalam khutbah Jum’at yang mulia ini kita coba renungi beberapa ayat dari Al Qur’an yang semoga dengannya kita semakin faham betul makna toleransi dan moderat dalam islam yang sebenarnya.

Pertama, Quran Surat Al Baqoroh 256

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqoroh: 256)

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama (لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ). Tidak boleh siapun yang memaksa orang lain untuk beragama ini atau itu, bahkan pada orang terdekatnya, kerabat atau anaknya. Termasuk untuk masuk dalam agama Islam, tidak ada paksaan. Tidak boleh kita memaksa orang untuk beragama Islam. Namun, ini bukan berarti semua agama sama. Hingga akhirnya mencampur adukkan agama. Coba kita baca kelanjutnya ayatnya, “telah jelas antara jalan yang benar dan yang sesat” (قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ). Tidak sama antara kebenaran dan kesalahan, jalan yang benar dan jalan yang sesat. Kebenaran agama itu sudah sangat jelas dan terang, tidak perlu dipaksa.   

Kedua: Quran Surat Al Kafirun

Surat al Kafirun dari awal sampai akhir berisi satu hal pokok yaitu bahwa tidak sama antara keimanan dan kekufuran. Tidak sama antara beribadah pada Allah dan pada selain Allah. Di akhir surat Allah menyebutkan:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ 

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS Al Kafirun: 6)

Disebutkan para ahli tafsir, diantaranya Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa sebab turunnya surat ini yaitu dikatakan bahwa dulu karena kejahilan orang kafir Quraisy, agar terjadi kedamaian di Mekah mereka meminta atau melobi Nabi Muhammad untuk beribadah pada berhala mereka setahun kemudian mereka akan beribadah kepada Allah (sesembahan Nabi Muhammad) selama setahun pula. Maka Allah pun turunkan surat ini dan memerintahkan NabiNya untuk berlepas diri secara total dari agama mereka! Apa yang dilakukan orang kafir Quraisy ini mirip dengan apa yang diserukan sebagian orang zaman ini, atas nama toleransi ingin mencoba mencampur adukan agama!! Jelas ini tidak benar.

Rasulullah ketika mendakwahkan agama Islam pada orang kafir Quraisy tidak memaksa. Beliau hanya mengajak pada tauhid dan kebenaran, siapa yang mau silahkan dan yang tidak silahkan. Beliau tidak memaksa. Beliau juga tidak mengganggu orang kafir Quraisy dalam ibadah mereka. Bahkan sebaliknya orang kafir Quraisy yang menganggu orang yang mau masuk islam, menganggu mereka dalam ibadah mereka pada Allah, bahkan menyakiti dan membunuh mereka.  Lalu tiba-tiba ada sebagian orang Kafir Quraisy yang sok bersikap toleran dan moderat mengajak untuk mencampurkan agama. Jelas ini ini ditolak mentah-mentah oleh Allah dan Allah turunkan surat al Kafirun ini. Agamamu agamamu , agamaku agamaku (لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ).

Ketiga: Quran Surat Mumtahanah 8-9

Allah berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Mumtahanah: 8)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kita tidak dilarang berbuat baik dan berlaku adil pada siapapun, termasuk orang-orang ahli kitab (Yahudi, Nashrani) atau orang kafir yang lainnya. Bahkan Allah sangat suka pada orang-orang yang berbuat baik dan berlaku adil. Yang dilarang adalah menjadikan kawan orang-orang kafir yang menjadi musuh-musuh Islam. Bahkan membantu mereka dalam kesalahan dan kedzaliman mereka. Ini yang dilarang sebagaimana disebutkan dalam ayat berikutnya, ayat ke 9 (QS Mumtahanah: 9).

Jama’ah rahimakumullah,

Ayat-ayat yang seperti ini sangat banyak sekali. Yang intinya menujukkan bahwa kita sebagai umat Islam tidak dilarang untuk berbuat baik pada siapapun, termasuk orang-orang kafir. Bahkan kita dianjurkan untuk berbuat baik pada semua manusia. Dulu Rasulullah memiliki tetangga Yahudi yang buta dan suka memaki beliau. Tetapi ternyata beliau memperlakukan orang itu dengan baik. Kita tidak dilarang bermuammalah dalam urusan duniawi dengan siapapun. Namun sekali lagi ini bukan berarti kemudian kita mencampur adukkan agama.

Sekian yang dapat kami sampaikan pada khutbah pertama ini semoga bermanfaat.  Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki semangat yang kuat dalam kebaikan. Amien.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH KEDUA:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Jama’ah ibadah Jum’ah yang semoga dirahmati oleh Allah,  

Agama islam mengajarkan kita berbuat baik kepada siapapun, baik muslim, non muslim atau bahkan makhluk yang lainnya. Islam mengajarkan kita untuk bersikap toleran, tidak memaksa orang lain dalam beragama. Tidak menganggu mereka dalam beragama. Namun, disisi lain, Islam juga agama yang jelas dan tegas. Lurus diatas kebenaran. Tidak bengkok, tidak abu-abu. Yang benar diyakini benar, yang salah diyakini salah. Yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah. Oleh karena itu ketika ditanyakan Rasulullah “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda:

الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

“al-Hanifiyyah as-Samhah (yang lurus dan toleran)” (HR. Ahmad)

Inilah ajaran Islam, lurus sekaligus toleran. Kita hanya diperintahkan untuk mendakwahkan dan menjelaskan kebenaran. Yang menerima alhamdulillah, yang tidak maka itu resiko mereka sendiri di akhirat. Intinya tidak ada paksaan dalam beragama (لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ). Kebebasan beragama ini juga telah dijamin di negara kita, dalam UUD 45 pasal 28E disebutkan “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya…”. Namun, ini bukan berarti kemudian kebablasan dengan mencampurkan agama dan keyakinan. Akhirnya agama menjadi tidak jelas. Ini mengotori kesucian agama itu sendiri.

Mari kita maknai toleransi dengan makna yang sebenarnya. Sebagaimana telah kita sampaikan pada khutbah yang pertama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan dengan “bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri”. Jadi inti makna toleransi, yaitu membiarkan, menghormati dan tidak mengganggu penganut agama lain. Jadi toleransi itu bukan mencampurkan agama dan keyakinan. Meyakini sama dengan apa yang diyakini orang lain. Bukan! Apalagi ikut-ikut dengan ibadah atau perayaan mereka agar dianggap toleran. Bukan!! Itu bukan toleransi tetapi malah menodai agama. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberi ancaman bagi orang yang tasyabuh (meniru) tradisi agama lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud 4033 dan dishahihkan al-Albani).

Sekian khutbah yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat untuk kita. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang moderat dan toleran dengan makna yang sebenar-benarnya. Amien. Mari kita tutup khutbah ini dengan sholawat dan doa.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ

Dr Abu Zakariya Sutrisno

(Pengasuh PP Hubbul Khoir, Dosen UNS, Alumni S3 KSU Saudi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here