Tafsir Surat Al ‘Adiyat

0
29

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Surat ini dinamai Al Adiyaat sebagaimana kata “Al Adiyaat”disebutkan dalam ayat pertama, maknanya adalah “kuda perang yang berlari kencang”, bisa juga maknanya lebih umum yaitu “yang berlari kencang”. Surat ini termasuk Makiyyah dan terdiri dari 11 ayat. Inti kandungan surat ini adalah celaan Allah bagi orang yang kufur (ingkar) dan sangat cinta terhadap harta.   

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالْعٰدِيٰتِ ضَبْحًاۙ 

Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah, (1)

فَالْمُوْرِيٰتِ قَدْحًاۙ 

dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya), (2)

فَالْمُغِيْرٰتِ صُبْحًاۙ 

dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi, (3)

فَاَثَرْنَ بِهٖ نَقْعًاۙ 

sehingga menerbangkan debu, (4)

فَوَسَطْنَ بِهٖ جَمْعًاۙ 

lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, (5)

ۚ اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ

sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya, (6)

وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ 

dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya, (7)

ۗ وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ

dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. (8)

اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِۙ 

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, (9)

وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِۙ 

dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? (10)

اِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّخَبِيْرٌ

sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka. (11)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya. 

Ayat 1: 

Firman Allah ta’ala: وَالْعٰدِيٰتِ ضَبْحًاۙ “Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah”, disini Allah awali dengan sumpah untuk menunjukkan pentingnya apa yang akan disampaikan berikutnya. Kata Al Adiyaat (الْعٰدِيٰتِ), maknanya adalah “yang berlari kencang”, disini sebenarnya tidak disebutkan yang disifati (maushufnya). Mayoritas ahli tafsir diantaranya Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah kuda. Sebagian yang lain, diantaranya Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud mengatakan maksudnya adalah onta (diantara alasannya karena saat ayat ini turun belum ada syariat Jihad). Kalau kita cermati ayat-ayat berikutnya (ayat 2-5) terkait dengan sifat-sifat hewan ini maka lebih mengarah pada kuda. Sejak jaman Jahiliyah orang Arab sudah terbiasa menggunakan kuda dalam peperangan. Perbedaan pendapat seperti ini banyak dalam tafsir dan termasuk khilaf tanawwu’ yang tidak saling bertentangan dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. 

Ayat 2-5: 

Ayat ke 2 sampai ke 5 ini berkaitan dengan kuda atau hewan yang berlari kencang tadi. Kuda disini memiliki keistimewaan khusus dibanding hewan-hewan lainnya. Firman Allah ta’ala: “dan yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya) (2)”, ini menujukkan saking kencangnya berlari dan memukulkan kakinya ke bebatuan sehingga muncul percikan api. Lalu firman Allah, “yang menyerang pada waktu pagi (3), sehingga menerbangkan debu (4) lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh (5)”, ini menunjukkan secara umum biasanya penyerangan musuh itu dilakukan diwaktu subuh ketika musuh lalai. Ini juga yang dilakukan Rasulullah, ketika menyerang menunggu waktu subuh. Jika terdengar Adzan maka tidak jadi diserang, jika tidak terdengar maka diserang.  

Ayat 6: 

Firman Allah ta’ala: اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ ۚ “sungguh, manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya”, ini adalah isi sumpahnya. Allah bersumpah bahwa manusia itu benar-benar ingkar. Ibnu Abbas, Mujahid dan lainnya mengatakan: Makna “al kanud” (كنود) adalah al kafur, yaitu mengingkari (nikmat Allah). Al Hasan Al Bashri mengatakan: 

هو الذي يعد المصائب، وينسى نعم ربه

“yaitu orang yang menghitung-hitung musibah. Namun melupakan betapa banyak nikmat Tuhannya” (Tafsir Ibnu Katsir)

Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa diantara kesesuaian yang dijadikan sumpah (kuda perang) dan isi sumpah (keingkaran manusia) dalam ayat ini adalah bahwa kuda saja bisa taat dan tunduk ketika dirawat dan dipelihara oleh pemiliknya. Adapun sebagian manusia ternyata tidak tahu diri, malah ingkar kepada Tuhannya yang telah memberinya berbagai macam nikmat. 

Ayat 7: 

Firman Allah ta’ala: وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ “dan sesungguhnya dia menyaksikan keingkarannya”. Dhamir (kata ganti)  dalam kata sesungguhnya dia “اِنَّهٗ” ini bisa kembali ke dua hal: pertama yaitu Kembali kepada Allah, sehingga maknanya “Sesunnguhnya Dia Allah maha mengetahui keingkaran manusia”. Bisa juga Kembali ke manusia itu sendiri, sehingga maknanya “Sesungguhnya dia manusia mengetahui keingkarannya (sendiri)”. Dua penafsiran ini tidak saling bertentangan. Allah maka tahu akan keingkaran manusia dan manusia sendiri sebenarnya tahu dirinya ingkar dan kufur nikmat, tetapi tetap saja mereka lalai. 

Ayat 8: 

Firman Allah ta’ala: وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ“dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan”. Kata al khair (الخير) bisa bermakna “kebaikan” tetapi dalam ayat ini maknanya adalah harta benda. Ada dua penafsiran ayat ini sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir: Pertama, sesungguhnya manusia itu sangat mencintai harta. Kedua, sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta membuatnya jadi kikir (Tafsir Ibnu Katsir). Kedua penafsiran ini saling berdekatan. Manusia sangat cinta terhadap harta sehingga menjadi bakhil dan kikir, bahkan kadangkala termasuk bakhil pada dirinya sendiri dan orang-orang dekatnya. Allah berfirman: 

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً  

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS Al Fajr: 20)

Ayat 9-11: 

Firman Allah ta’ala: “Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, (9) dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan? (10) sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka. (11)” ini adalah peringatan terhadap hari kebangkitan. Allah mengingatkan orang-orang yang terlalu cinta dengan harta, berlebihan mengejar dunia bahwa semua akan berakhir dan semua akan dimintai pertanggung jawaban. Maka manusia diingatkan agar tidak mencintai dunia yang membuat bakhil. Sementara nanti ketika dibangkitkan dari kubur, harta dunia yang dulu dicintainya itu tak memberi manfaat apa-apa. Pada saat itu, ditampakkan segala yang tersembunyi dalam hati.  Al Khabir الخًبر artinya Allah Maha Mengetahui perkara-perkara yang nampak dan tersembunyi.  

FAEDAH 

Ada beberapa faedah dari surat ini, diantaranya yaitu hendaknya kita menjadi orang yang syukur nikmat dan berusaha zuhud terhadap dunia. Jangan sampai malah kufur nikmat dan dan bakhil. Kebakhilan sangat bertentangan dengan kesempurnaan iman. Rasulullah bersabda: 

لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan berkumpul kebakhilan dan keimanan pada hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa 3110, dishahihkan Albani) 

Audio Tafsir Singkat Surat Al ‘Adiyat

Pemateri : Ustadz Dr Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 11 Agustus 2020 

Artikel: hubbulkhoir.com 

Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here