Tafsir Surat Al ‘Ashr

0
145

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Surat di dinamai Al Ashr yang maknanya adalah masa, sebagaimana disebutkan dalam ayat pertama surat ini.  Surat ini menjelaskan bahwa secara umum manusia benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang memilik sifat-sifat yang disebutkan dalam surat ini: beriman (berilmu), beramal shalih, berdakwah diatas al Haq dan juga sabar. Surat ini termasuk Makiyyah. Meskipun ringkas (hanya 3 ayat) tetapi surat ini berisi hal-hal yang sangat penting. Imam Syafi’I mengatakan: 

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” (Tafsir Ibn Katsir)

Artinya itu sudah mencukupi mereka sebagai nasihat dan wejangan untuk berpegang teguh pada iman dan amal shalih, untuk berdakwah kepada Allâh, dan bersabar dalam itu semua. Bukan dalam arti bahwa surat ini cukup dalam semua isi syariat.

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَالْعَصْرِۙ 

Demi masa, (1)

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ 

sungguh, manusia berada dalam kerugian, (2)

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.(3)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya. 

Ayat 1: 

Firman Allah ta’ala: وَالْعَصْرِۙ  “Demi Masa”, disini Allah bersumpah dengan waktu. Ketika sesuatu Allah dahului dengan sumpah itu menunjukkan hal yang penting. Sebagian ahli tafsir mengatakan yang dimaksud al Ashr adalah “masa” secara umum, sebagian yang lain mengatakan maknanya adalah “waktu Ashar”. Pendapat pertama masyhur dan lebih kuat (Lihat Tafsir Ibn Katsir). Dalam Al Qur’an Allah banyak sekali bersumpah dengan waktu atau bagian dari waktu seperti Al Ashr ini, Ad Dhuha, Al Lail, Al Fajr, Al Falaq dan lain-lain. Ini menunjukkan pentingnya waktu. 

Ayat 2: 

Firman Allah ta’ala: اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ  “sungguh, manusia berada dalam kerugian”, disini Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia dalam kerugian. Allah kuatkan pernyataan ini dengan tiga hal: 1. Didahului sumpah; 2. Didahului dengan huruf inna (اِنَّ), yang mana ia adalah harfu taukid (huruf penguat); 3. Didahului lam taukid (dalam kata: لَفِيْ) yang juga sebagai bentuk penguatan dan penegasan. 

Syaikh Sa’di rahimahullah menjelaskan: “Allah bersumpah dengan masa, yakni waktu malam dan siang, yang merupakan lading bagi hamba untuk berbuat dan beramal. Setiap manusia berada dalam kerugian dan kerugian adalah lawan kata dari keberuntungan. Kerugian memiliki tingkatan yang berbeda. Ada bentuk kerugian mutlak, seperti kondisi seseorang yang merugi dunia maupun akhirat. Dia kehilangan kenikmatan dunia dan akan mendapatkan adzab di neraka. Ada pula yang mendapatkan kerugian dari satu sisi saja. Oleh karena itu Allah nyatakan bahwa semua manusia dalam kerugian, kecuali orang yang memiliki empat sifat (yg akan dijelaskan ayat berikutnya)” (Tafsir As Sa’di)

Ayat 3: 

Firman Allah ta’ala: اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ   “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. Ini adalah sifat orang-orang yang dikecualikan dari kerugian. Ada empat sifat utama:  beriman, beramal shalih, menasehati dalam kebenaran (berdakwah) diatas al Haq dan juga sabar. Berikut penjelasan secara singkat:

Pertama: beriman

Beriman terhadap perintah Allah yang wajib diimani, mulai dari yang paling pokok adalah rukun iman yang enam dan kemudian cabang-cabangnya. Iman tidak akan terwujud kecuali dnegan ilmu. Iman tidak akan sempurna kecuali jika dilandasi dengan ilmu. 

Syaikh Utsaimin menjelaskan: “Terkait dengan masalah iman ini ada tiga golongan manusia: 1. Seorang mukmin dengan iman yang murni, iman yang tidak dicampuri keraguan, 2. Seorang kafir yang ingkar, 3. Orang yang ragu-ragu. Orang yang akan selamat adalah golongan yang pertama yaitu yang beriman tanpa disertai keragu-raguan..” 

Kedua: beramal shalih

Amal shalih mencangkup seluruh amal kebaikan, yang dhohir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak hamba, yang wajib maupun yang sunnah. Ada dua syarat sebuah amal disebut amal shalih: ikhlash untuk Allah dan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah (dilandasi ilmu). 

Ketiga: berdakwah

Yakni mengajak orang lain kedalam al haq (kebenaran), yaitu iman dan amal shalih. Menjelaskan, menasehati, mendorong, memberi contoh dan seterusnya agar manusia melakukan kebaikan. Dakwah adalah amalan yang sangat utama, ini adalah jalan hidupnya para Nabi dan Rasul.  Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ 

“Katakanlah, “inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108).

Keempat: sabar

Sabar meliputi tiga hal: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan dan sabar dalam menerima taqdir Allah. Diantara bentuk sabar dalam menjalankan ketaatan adalah sabar dalam tiga hal diatas: beriman (berilmu), amal shalih dan dakwah. Ini semua memerlukan kesabaran. 

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Dengan dua sifat yang pertama (iman dan amal shalih) maka manusia dapat menyempurnakan dirinya. Sedangkan dengan dua sifat yang lainnya (menasehati dalam kebaikan dan kesabaran) maka akan mampu menyempurnakan orang lain. Dengan menyandang keempat sifat ini seseorang akan terhidar dari kerugia dan akan mendapatkan keberuntungan yang besar” (Tafsir As Sa’di). 

FAEDAH 

Ada satu kisah menarik terkait dengan surat ini, yang mana kisah ini juga disebutkan para ahli tafsir di tafsir mereka diantaranya Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Yaitu kisah dialog Sahabat Amr bin Ashr dengan Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai Nabi. Musailamah bertanya kepada Amr bin Ashr terkait apa yang diturukan kepada Rasulullah. Maka Amr pun menjawab bahwa telah diturunkan kepada Rasulullah surat yang sangat pendek tapi padat yaitu surat al Ashr. Musailamah pun berpikir sejenak dan mengatakan: Telah diturunkan kepadaku juga surat seperti itu. 

يا وَبَرُ يا وبَرُ،إنّمَا أنتَ إيْرَادٌ وَصَدَرٌ،وسَائِرُكَ نَفْرٌ نَقْرٌ

“Wahai marmut, wahai marmut, sesungguhnya kamu hanyalan dua telinga dan dada,  sedangkan sisa tubuhmu adalah lubang dan bolong.”

Kemudian Musailamah bertanya, “Bagaimana menurutmu wahai Amru?” Amru pun mengatakan: “Demi Allah, engkau pasti mengetahui bahwa aku tahu engkau ini sedang berdusta”

Audio Tafsir Singkat Surat Al ‘Ashr

Pemateri : Ustadz Dr Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 3 Agustus 2020 

Artikel: hubbulkhoir.com 

Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here