Tafsir Surat Al Falaq

0
164

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Nama al Falaq diambil dari kata al Falaq yang artinya waktu Subuh sebagaimana yang terdapat dalam ayat pertama surat ini. Surat ini terdiri 5 ayat, termasuk surat Makiyyah, tetapi sebagian ulama mengatakan ini surat Madaniyah. Surat ini diturunkan bersamaan dengan surat An Nas. Kandungan utama surat ini adalah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan makhlukhNya secara umum. Kalau dalam surat an Nas terdapat perintah meminta perlindungan dari kejahatan syaithan dari Jin dan manusia maka untuk surat Al Falaq ini lebih umum.  

Surat An Nas dan surat Al Falaq sering disebut juga Al Muawwidzataini, yang artinya dua surat perlindungan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berlindung dari jin dan ‘ain dengan berbagai macam bacaan, sampai turun dua mu’awwidzataan (surah Al-Falaq dan surah An-Naas). Ketika keduanya turun, beliau mengambil keduanya dan meninggalkan yang lainnya. (HR. Tirmidzi, no. 2058 dan ia berkata bahwa haditsnya hasan)

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), (1)

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ

dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, (2)

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (3)

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ

dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), (4)

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (5)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya.

Ayat 1:

Firman Allah ta’ala قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ  “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh” berisi perintah untuk meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah, tuhannya al Falaq. Arti dari al Falaq adalah waktu subuh. Makna al Falaq juga bisa lebih luas dari itu, yaitu segala sesuatu yang dibelah oleh Allah seperti subuh atau pagi, butir tumbuh-tumbuhan atau juga biji buah-buahan. Allah berfirman:

إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ 

“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (QS Al An’am: 95)

Ayat 2:

Firman Allah ta’ala: مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ “dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan”, ini mencangkup minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan atau keburukan seluruh makhlukNya baik itu jin, manusia, binatang, dan yang lainnya (Tafsir as Sa’di). Orang dekat kita (anak-istri) bahkan diri kita sendiri kadang bisa mendatangkan keburukan untuk diri kita. Semua adalah makhlukNya Allah maka kita minta perlindungan kepada sang penciptanya yang Maha Berkuasa atas mereka.  Ayat ini berisi permintaan pelindungan dari kejahatan makhluk secara umum, adapun ayat berikutnya terkait kejahatan-kejahatan yang lebih khusus. Ini salah satu bentuk indahnya Bahasa al Qur’an, seringkali membawakan sesuatu yang sifatnya umum baru kemudian khusus, atau yang global baru kemudian terperinci dan juga kadang sebaliknya.

Ayat 3:

Firman Allah ta’ala وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ “dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”. Dikatakan makna غَاسِقٍ adalah malam, adapula yang mengatakan maknanya adalah bulan. Yang benar bisa mencakup keduanya (Tafsir Juz Amma, Syaikh Utsaimin). Syaikh Sa’di dalam tafsirnya mengatakan: “yaitu dari kejahatan yang terjadi di malam hari ketika menyelimuti manusia rasa kantuk. Pada waktu tersebuh banyak ruh-ruh jahat yang bergentayangan dan binatang-binatang berbahaya berkeliaran”. Sebagaimana kita ketahui bahwa banyak kejahatan terjadi di malam hari seperti pencurian, sihir, dan yang lainnya maka kita berlindung kepada Allah atasnya.

Ayat 4:

Firman Allah ta’ala وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ “dan dari kejahatan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya)”, ayat ini berisi permintaan perlindungan dari kejahatan sihir dan tukang sihir.  Ada yang mengatakan bahwa makna النَّفّٰثٰتِ adalah wanita-wanita tukang sihir, karena kebanyakan yang melakukan sihir di zaman itu adalah wanita. Adapula yang mengatakan bahwa makna النَّفّٰثٰتِ adalah jiwa-jiwa yang jahat sehingga mencakup penyihir laki-laki maupun perempuan (Tafsir Baidhawi). Ayat ini menjelaskan cara penyihir melakukan sihir yaitu dengan membuat buhul atau ikatan tali kemudian mereka membacakan mantra-mantra dan sambil meniup pada buhul itu.

Ayat 5:

Firman Allah ta’ala: وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ “dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” Pendengki adalah orang yang benci jika nikmat Allah diberikan kepada orang lain. Dia akan merasa sempit atau sedih jika orang lain mendapatkan nikmat berupa harta, kedudukan, harta, ilmu atau yang lainnya. Sifat hasad atau dengki sangat berbahaya dalam kehidupan manusia karena dapat mengarahkan kepada banyak kejelekan yang lainnya. Hasad lah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surge (Lihat QS Al A’raf: 12). Hasad juga yang menyebabkan salah satu anak Adam membunuh saudaranya (Lihat QS Al Ma’idah: 27). Hasad sangat diharamkan karena pada hakekatnya hasad adalah bentuk tidak ridha dengan keutamaan yang Allah bagikan atas makhlukNya. Allah berfirman,

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (QS. An Nisa’: 54)

Allah memerintahkan untuk berlindung dari kejelekan orang-orang yang hasad. Hal ini menunjukkan bahayanya sifat hasad. Diantara bentuk hasad juga adalah penyakit ‘ain, yaitu pandangan mata yang tajam yang disertai rasa hasad. Ain bisa menimbulkan kemudharatan seperti sakit atau bahkan kematian.

FAEDAH

Banyak sekali kejelekan dan keburukan yang bisa bermudharat pada kita baik itu keburukan penyihir, orang hasad, keburukan jin, atau juga keburukan manusia dan makhluk lain secara umum.  Cara keselamatan adalah hendaknya kita berlindung dan bertawakal pada Allah dengan membaca wirid-wirid syar’I seperti membaca muawwidzataini ini. Jika manusia membiasakan dan terus berusaha menggunakan wirid-wirid syar’I insyaallah akan terjaga dari berbagai macam keburukan. Namun, disayangkan banyak sekali orang yang lalai dari hal ini akhirnya sering ditimpa keburukan. Mari kita biasakan membaca surat al Falaq ini dan juga an Nas dan Al Ikhlash dalam beberapa keadaan disunnahkan diantaranya: setelah sholat, pada pagi dan petang dan menjelang tidur. Semoga ini bisa menjadi perlindungan untuk diri kita semua. Amien.

Audio Tafsir Singkat Surat Al Falaq

Pemateri : Ustadz Dr Abu Zakariya Sutrisno

–belum tersedia–


Sukoharjo, 6 Juli 2020

Artikel: hubbulkhoir.com

Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here