Tafsir Surat Al Humazah

0
222

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Surat di dinamai Al Humazah sebagaimana kata “Humazah” yang terdapat di ayat pertama dimana artinya adalah “orang yang suka mengumpat”. Surat ini berisi celaan bagi orang yang suka mencela dan kikir dalam masalah harta. Mereka kelak akan dimasukkan kedalam neraka Huthamah. Apa dan bagaimana dasyatnya Huthamah itu? Akan dijelaskan dalam surat ini.

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, (1)

ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ

yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,(2)

يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ

dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.(3)

كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِۖ

Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah.(4)

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ ۗ

Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huthamah itu?(5)

نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ

(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan,(6)

الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ

yang (membakar) sampai ke hati.(7)

اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ

Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka,(8)

فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ

(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.(9)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya.

Ayat 1:
Firman Allah ta’ala: وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela”, ini adalah celaan dan ancaman bagi orang-orang yang suka mengumpat. Kata wail (وَيْلٌ), ini bisa bermakna “kecelakaan” bisa juga bermakna salah satu nama lembah di neraka. Bisa juga bermakna siksaan dan bencana yang pedih.
Apa bedanya al humazah dan al lumazah? Mujahid mengatakan: al humazah dengan tangan dan mata, adapun al lumazah dengan lisan (Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Sa’di menjelaskan: Kata Al Hamaz adalah orang yang mencela manusia dan menodai kehormatannya dengan isyarat dan perbuatan. Sedangkan kata Al Lamaz adalah orang yang mencela dengan perkataan (Tafsir As Sa’di). Ancaman dalam surat ini berlaku umum bagi orang-orang yang suka memcela baik dengan perkataan atau dengan perbuatan, misal dengan kedipan mata atau bahasa tubuh yang lainnya yang tujuannya untuk mencela orang lain.

Ayat 2:
Firman Allah ta’ala: الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ “yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,(2)”, ini adalah kelanjutan dari sifat orang yang suka mengumpat yaitu bahwa mereka gemar mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitungnya karena kebakhilannya. Mereka menggabungkan dua sifat jelek terkait harta: tamak dan bakhil. Mereka tidak mau berinfaq di jalan kebaikan. Mereka bakhil kepada orang lain dan bahkan juga pada diri mereka sendiri dan orang-orang dekatnya karena mereka selalu “hitungan” dalam harta. Kata عَدَّدَه (menghitung-hitung) adalah bentuk mubalaghah (hiperbola) jadi tidak sekedar menghitung biasa. Oran yang gemar mengumpulkan harta dan menghitung-hitung dan membandingkannya maka sangat mudah dia jadi sombong kemudian merendahkan orang lain.

Ayat 3:
Firman Allah ta’ala: يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ “dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”, ini adalah sifat jelek berikutnya. Karena kebodohannya mereka mengira bahwa harta mereka akan mengekalkannya. Ini adalah hal yang mustahil. Namun, anehnya anggapan ini banyak sekali dianut oleh manusia baik sadar atau tidak sadar. Mereka mengira harta yang mereka kumpulkan dan hitung-hitung itu bisa membuat umur mereka bertambah dan hidup kekal di dunia ini. Padahal sejatinya terbalik! Kebakhilan mereka itu yang akan membuat umur mereka akan menjadi pendek dan membuat harta mereka tidak berkah sehingga malah mendatangkan mala petaka di dunia apalagi di akhirat nanti.

Ayat 4-5:
Firman Allah ta’ala: “Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah itu?”, ini adalah pertanyaan retoris yang tujuannya untuk menunjukkan kedasyatan dan karakternya yang begitu menakutkan (Tafsir As Sa’di). Dalam al Qur’an Allah sering menyuguhkan pertanyaan dan dialoq, ini tidak lain untuk memudahkan untuk memahami. Apa itu Hutamah? Akan dijelaskan ayat berikutnya.

Ayat 6-9:
Ayat ke-6 sampai ke-9 ini berisi penjelasan dan gambaran dasyatnya neraka Hutamah. Yaitu yang pertama, “(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan”, jadinya apinya menyala-nyala dan sangat panas sekali. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
نَارُكم هذِه ما يُوقدُ بنُو آدمَ جُزْءٌ واحدٌ من سبعين جزءاً من نار جهنَّم
“Api yang dinyalakan oleh Ibnu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya api Jahannam” (HR. Bukhari no. 3265, Muslim no. 2834).
Yang kedua diantara gambaran dasyatnya Hutamah adalah “yang (membakar) sampai ke hati.” Jadi api itu tidak sekedar membakar kulit, tetapi membakar sampai dalam tubuh bahkan sampai ke ulu hati. Berkata Tsabit Al Bunani (salah seorang Tabi’in): “Api itu membakar sampai ulu hatinya dalam kondisi hidup-hidup” (Tafsir Ibnu Katsir). Kita terkena api di kulit saja sudah sangat panas, apalagi kalau sampai ulu hati maka tidak bisa dibayangkan ngerinya!!
Kemudian yang ketiga dari gambaran dasyatnya Hutamah adalah “Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka”. Ketika api itu ditutup rapat maka panasnya akan tepusat kesitu dan semakin menjadi-jadi. Penduduk neraka ditutup rapat, dikunci dan “dipresto” di dalam api neraka. Mereka tidak bisa keluar dan melarikan diri darinya. Allah berfirman:
كُلَّمَا أَرَادُوا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَا
“Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya“ (QS Sajdah: 20)
Yang keempat diantara dasyatnya Hutama adalah “(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”, ini adalah kesengsaraan diatas kesengsaraan. Sudah dibakar dengan api yang menyala-nyala, ditutup rapat kemudian ditambah mereka diikat didalamnya. Ini salah satu siksaan saja sudah mengerikan apalagi kalau semua terkumpul jadi satu. Di dalam ayat yang lainnya bahkan disebutkan tambahan adzab yang lainnya sepeti diberi minuman dari air yang mendidih, diberi minum air nanah, diberi makan buah berduri (buah Zaqqum). Naudzubillah min dzalik.

FAEDAH

Ada sebuah faedah menarik yang disampaikan syaikh Utsaimin: “Adzab penghuni neraka disebutkan secara detail di dalam al Qur’an dan Sunnah. Renungkanlah sekarang, jika seseorang berada di kamar atau mobil yang terbakar sedang dia tidak mendapat jalan keluar. Semua terkunci. Dia tentuk dalam kerugian yang sangat besar yang tiada tandingannya Maka demikianlah kondisi mereka -naudzubillah- di neraka. Api menyelimuti mereka dan berasa diatas mereka dengan kondisi tertutup“.

Audio Tafsir Singkat Surat Al Humazah

Pemateri : Ustadz Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 27 Juli 2020
Artikel: hubbulkhoir.com
Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here