Tafsir Surat Al Kafirun

0
154

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Surat dinamai dengan surat al Kafirun yang artinya “orang-orang kafir” sebagaimana disebutkan kata ini dalam ayat pertama.   Surat ini terdiri dari 6 ayat dan termasuk surat Makiyyah. Surat ini berisi pernyataan berlepas diri dari orang-orang kafir dan pernyataan bahwa apa yang mereka sembah tidak sama dengan yang disembah orang-orang beriman. Surat ini dengan jelas menunjukkan tentang tauhid dalam ibadah atau uluhiyah. Aneh kalau ada orang yang menjadikan surat ini sebagai dalil kebebasan beragama atau semua agama sama. Surat ini dengan tegas menyatakan agama dan apa yang disembah orang kafir dan orang beriman tidak sama.  Dari nama surat ini saja sudah sangat jelas. 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan “Surat ini adalah surat bara’ah (berlepas diri) dari perbuatan orang kafir… dikatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy, mereka meminta atau melobi Nabi Muhammad untuk beribadah pada berhala mereka setahun kemudian mereka akan beribadah kepada sesembahan Nabi Muhammad selama setahun pula. Maka Allah pun turunkan surat ini dan memerintahkan NabiNya untuk berlepas diri secara total dari agama mereka… ”

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ 

Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! (1)

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ 

aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,(2)

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ 

dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,(3)

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ 

dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,(4)

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ 

dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.(5)

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”(6)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya. 

Ayat 1-2:

Firman ta’ala قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ    “Katakanlah, “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”, ini berisi perintah kepada Nabi Muhammad dan juga kepada umatnya secara umum untuk menyatakan dengan jelas dan terang-terangan bahwa mereka tidak menyembah apa yang disembah orang kafir. Ini menunjukkan dalam masalah akidah dan ibadah kita harus tegas dan jelas, jangan abu-abu. Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam tafsir Juz Amma menjelaskan bahwa orang kafir disini umum mencangkup orang-orang musyrik, yahudi, nashrani dan yang lainnya. 

Ayat 3:

Firman ta’ala وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ “dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah”, ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak menyembah apa yang disembah orang-orang beriman. Ibadah mereka kepada Allah yang diiringi dengan kesyirikan tidak disebut ibadah (Lihat Tafsir As Sa’di).  Ini menujukkan meskipun orang kafir menyembah Allah di satu sisi, tetapi ketika mereka berbuat syirik menyembah kepada selain Allah juga maka mereka dihukumi tidak menyembah Allah. 

Ayat 4-5:

Pernyataan dalam ayat ke 2 dan ke 3 diulang lagi dalam ayat ke 4 dan ke 5, apa faedahnya? Syaikh As Sa’di menjelasakan: Hal ini diulang untuk menunjukkan yang pertama atas tidak adanya perbuatan (yaitu orang beriman benar-benar tidak menyembah apa yang disembah orang kafir dan juga sebaliknya orang kafir tidak menyembah apa yang disembah orang beriman) dan yang kedua menunjukkan bahwa itu menjadi sifat yang lazim atau tidak berubah-ubah lagi (bahwa orang beriman tidak mungkin selama-lamanya akan menyembah apa yang disembah orang kafir dan juga sebaliknya). Syaikh Utsaimin dalam tafsirnya menjelaskan beberapa perbedaan pendapat terkait pengulangan ini: (1) ada yang mengatakan itu sebagai taukid (penguat); (2) ada yang mengatakan itu sebagai bentuk kondisi sekarang dan yang akan datang; (3) ada yang mengatakan bahwa yang pertama terkait dengan apa yang disembah dan yang kedua terkait dengan cara beribadah; (4) ada juga yang mengatakan bahwa yang pertama terkait fi’il (perbuatan) dan yang kedua terkait penerimaan dan keridhaan (Lihat selengkapnya di Tafsir Juz Amma).  Ala kulli hal, penafsiran para ulama tidak saling bertengangan. Intinya semua menunjukkan bahwa apa yang disembah orang kafir dan orang yang beriman tidak sama. 

Ayat 6:

Firman ta’ala لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ  “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, ini adalah pernyataan berlepas diri dan juga penyataan agama orang kafir dan agama orang beriman tidak sama! Agama tauhid dan kesyirikan selama-lamanya tidak akan mungkin disatukan dan disamakan. Kalau ada yang menyatakan semua agama dengan dalih ayat ini maka ini sangat aneh. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berisi ancaman dan juga pernyataan berlepas diri bukan berisi pembenaran agama lain. Apalagi dengan jelas Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ 

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Benar bahwa tidak ada paksaan dalam beragama dan tidak boleh memaksakan agama pada seseorang. Namun, ini bukan berarti semua agama sama. Telah jelas antara benar dan salah, antara tauhid dan syirik dan juga antara keimanan dan kesyirikan. Allah berfirman:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ  

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS Al Baqarah: 256) 

FAEDAH 

Surat al Kafirun ini disebut juga surat Al Ikhlash yang kedua. Surat al Ikhlash penekanannya dalam tauhid asma wa sifat adapun surat al Kafirun terkait tauhid uluhiyah. Kedua surat ini mengandung keikhlasan hanya kepada Allah. Rasulullah membaca dua surat ini dalam sholat sunnah fajar (HR Muslim no. 726), sholat sunnah magrib (HR Tirmidzi no. 431), dua rekaat sholat thawaf (HR Muslim no. 1218) dan juga dalam sholat witir. 

Audio Tafsir Singkat Al-Kafirun

Pemateri : Ustadz Dr. Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 15 Juli 2020 

Artikel: hubbulkhoir.com 

Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here