Tafsir Surat Al Ma’un

0
114

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Nama surat ini diambil dari kata “Al Ma’un” yang ada dalam ayat yang terakhir, yang artinya “Barang-barang yang berguna”. Surat ini terdiri dari 7 ayat dan termasuk Makkiyah. Kandungan surat ini seputar sifat-sifat orang yang mendustakan agama. Orang yang mendustakan agama jelek dalam hablu minallah (hubungan dengan Allah) diantaranya lalai dari sholat dan riya’ dan juga jelek hablu minannasnya (hubungan dengan manusia) seperti menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin dan juga tidak mau berbagi dengan barang-barang yang berguna (al Ma’un).

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1)

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ

Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, (2)

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ

dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (3)

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

Maka celakalah orang yang salat, (4)

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (5)

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

yang berbuat ria, (6)

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

dan enggan (memberikan) bantuan dengan barang yang berguna. (7)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya.
Ayat 1:
Firman Allah ta’ala: اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”, kata “ad dien” bisa bermakna agama yang dibawa para Rasul dan bisa pula bermakna hari pembalasan. Orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan adalah orang-orang yang meninggalkan hak-hak Allah dan juga hak-hak manusia sebagaimana akan dijelaskan pada ayat berikutnya. Keimanan akan hari pembalasan adalah hal yang sangat penting. Ketika seseorang tidak beriman dengan hari pembalasan dan bahkan mendustakannya maka tidak mungkin dia akan peduli dengan hak-hak Allah dan juga hak-hak manusia. Dia tidak menyakini bahwa semua amal akan dibalas oleh Allah.

Ayat 2:
Firman Allah ta’ala: فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ “ Maka itulah orang yang menghardik anak yatim”, ini berisi sifat orang yang mendustakan agama dan hari pembalasan yaitu mereka menghardik anak yatim. Yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya. Mereka membutuhkan kasih sayang. Banyak sekali riwayat tentang keutamaan menyantuni anak yatim, diantaranya sabda Rasulullah: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau” (HR. Bukhari 4998).
Namun, orang yang mendustakan agama keras hatinya, mereka tidak peduli dan bahkan malah menghardik anak yatim. Kata دع artinya adalah menolak dengan keras dan kasar(الدفع بالعنف والجفوة) (Lihat Tafsir Baghawi).

Ayat 3:
Firman Allah ta’ala: وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ “dan tidak mendorong memberi makan orang miskin”, ini juga menjelaskan sifat orang yang mendustakan hari pembalasan yaitu tidak mau mendorong atau mengajak orang lain untuk memberi makan orang miskin. Mengajak saja tidak mau apalagi melakukannya dirinya sendiri. Tidak ada rasa peduli kepada fakir miskin yang membutuhkan bantuan.

Ayat 4-6:
Firman Allah ta’ala: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria”, ini adalah contoh orang yang jelek hubungannya dengan Allah, dia meninggalkan hak Allah. Yaitu orang yang lalai dalam sholat dan juga riya’ dalam beramal. Orang yang masih mengerjakan sholat tapi dengan lalai ini dicela, apalagi kalau dia meninggalkan sholat! Tidak sholat salam sekali. Aneh lagi kalau ngaku Islam tapi tidak sholat. Sholat adalah salah satu rukun Islam yang paling utama, dia adalah tiang agama. Kalau sholat saja dilalaikan apalagi ibadah yang lainnya.
Diantara bentuk lalai dari sholat adalah mengakhirkannya sampai keluar waktunya dan mengerjakannya dengan malas tidak sempurna rukun-rukunya. Melalaikan sholat dan riya adalah sifat orang munafiq. Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An Nisa: 142)
Ayat ini berisi celaan bagi orang yang lalai dari sholat (السهو عن الصلاة), bukan orang yang lupa dalam sholat. Kalau lupa dalam sholat maka ini bisa terjadi pada siapapun, bahkan Nabi pun pernah lupa dalam sholat (السهو في الصلاة). Misal beliau sholat Dhuhur atau Ashar hanya dua rekaat kemudian salam, setelah diingatkan beliau pun menambah rekaat kemudian sujud sahwi setelah itu.

Ayat 7:
Firman Allah ta’ala: وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ “ dan enggan (memberikan) bantuan dengan barang yang berguna”, ulama berbeda pendapat terkait makna kata al maun. Ibnu Mas’ud mengatakan “barang yang biasa saling dipinjamkan seperti gelas, teko, ember dan lainnya”. Ali bin Abi Thalib mengatakan Al Ma’un adalah “zakat”. Ibnu Abbas mengatakan “Manusia berbeda pendapat terkait al Ma’un, ada yang mengatakan zakat, ada yang mengatakan ketaatan, ada yang mengatakan bejana…” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).
Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan, “yakni tidak mau memberikan sesuatu yang jika diberikan tidak merugikan dirinya baik dengan meminjamkan atau menghadiahkan seperti panci/bejana, ember, kapak dan lain sebagainya yang biasa orang saling berbagi dan merelakan. Ketamakannya tehadap dunia mencegahnya untuk memberi dengan barang-barang berguna (yang sepele seperti ini) apalagi dengan barang yang lebih berharga dari itu?? (Tafsir As Sa’di).

FAEDAH

Surat ini berisi tentang sifat-sifat orang yang mendustakan hari pembahalasan diantaranya menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, lalai dari sholat, riya’ dan juga tidak mau berbagi dengan barang-barang yang berguna (al Ma’un). Ini menujukkan bahwa agama ini tidak sekedar ibadah, tidak hubungan dengan Allah (hablu minallah) tetapi juga hubungan dengan manusia (hablu minannas). Kita harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai agama dengan berbuat baik kepada orang lain dan memiliki kepekaan sosial (menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan).

Audio Tafsir Singkat Surat Al Ma’un

Pemateri : Ustadz Dr Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 20 Juli 2020
Artikel: hubbulkhoir.com
Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here