Tafsir Surat Al Zalzalah

0
99

Penulis: Dr Abu Zakariya Sutrisno

MUQADIMAH

Surat ini dinamai Al Zalzalah sebagaimana kata “Zilzaal” yang disebutkan dalam ayat pertama, maknanya adalah “goncangan”. Sebagian mengatakan surat ini termasuk Makiyyah karena berkaitan dengan hari kiamat. Sebagian lagi mengatakan surat ini Madaniyah. Surat ini terdiri dari 8 ayat dan inti kandungan adalah kabar terkait keguncangan di hari kiamat nanti. Semua amal manusia yang baik atau yang buruk akan dihisab meskipun sangat kecil.  Jangan meremehkan amal meskipun sangat kecil. 

TERJEMAHAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ 

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, (1)

وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ 

dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,(2)

وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ 

Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”(3)

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ 

Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, (4)

بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ 

karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukannya padanya. (5)

يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ 

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. (6)

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ 

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya (7)

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. (8)

PENJELASAN AYAT

Terkait basmallah telah berlalu penjelasannya. 

Ayat 1: 

Firman Allah ta’ala: اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ  “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”, ini menunjukkan kondisi di hari kiamat nanti. Syaikh As Sa’di mengatakan: Allah memberitakan tentang apa yang akan terjadi di hari kiamat. Bumi akan terguncang dan bergetar (gempa) tanpa henti secara menyeluruh hingga bangunan-bangunan roboh. Gunung-gunung meletus, bukit-bukit menjadi rata tanah menjadi padang sahara yang begitu luas tidak ada lembah tidak ada bukit” (Tafsir As Sa’di). Ibnu Abbas mengatakan terkait ayat ini: “yaitu bumi bergerak dari bawahnya” (Tafsir Ibnu Katsir). 

Guncangan di hari kiamat tidak bisa dibandingkan dengan guncangan di dunia saat ini. Diantara gambaran dasyatnya guncangan pada hari itu disebutkan dalam awal surat al Hajj: “Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (QS. Al Hajj: 1-2).

Ayat 2: 

Firman Allah ta’ala: وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ “dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya”. Ada dua penafsiran terkait makna “beban-beban beratnya”, pertama maksudnya adalah “mayit-mayit” yang terkubur di bumi. Tafsiran kedua adalah yaitu bumi mengeluarkan isi perutnya berupa emas, perak dan barang berharga lain yang manusia suka memperebutkannya. Namun saat itu manusia tidak membutuhkannya lain. Kedua penafsiran ini saling melengkapi. 

Ayat 3: 

Firman Allah ta’ala: وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ “Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”, ini menunjukkan manusia saat itu terkejut dan juga bingung terhadap apa yang terjadi. Bumi yang awalnya tenang kemudian berguncang dengan guncangan yang demikian dasyat. 

Ayat 4: 

Firman Allah ta’ala: يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya”, ini menunjukkan bahwa bumi akan menjadi saksi atas perbuatan yang dilakukan diatas bumi. Bumi adalah salah satu saksi dari perbuatan hamba. Pada hari kiamat manusia tidak bisa mengelak dari perbuatannya karena Allah datangnya saksi-saksi. Bahkan kaki, tangan dan anggota tubuhnya menjadi saksi atas dirinya. Allah berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ  

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin: 65)

Ayat ini juga berisi faedah untuk memperbanyak amal shalih dimanapun kita berada, agar tempat-tempat tadi menjadi saksi kebaikan untuk kita. Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang senantiasa berdzikir di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, semisal gunung dan tanah, akan menjadi saksi baginya di hari kiamat.” (Al Wabilush Shoyyib, hal. 197)

Ayat 5: 

Firman Allah ta’ala: بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ “karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukannya padanya.” Makna mewahyukan disini bisa “memerintahkan” atau “mengizinkan”. Allah maha mampu berbicara dan memerintahkan benda-benda mati karena Allah berkuasa atas segala sesuatu. 

Ayat 6: 

Firman Allah ta’ala: يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya.” Syaikh Sa’di menjelaskan makna اَشْتَاتًا adalah bermacam-macam, berbeda-beda, semua akan diperlihatkan sesuai amal kebaikan dan amal keburukan yang telah mereka perbuat (Tafsir As Sa’di). 

Ayat 7: 

Firman Allah ta’ala: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya”, ini menunjukkan semua amalan manusia akan dihisab dan akan dibalas meskipun sangat kecil. Ada beberapa penafsiran terkait makna “darrah” yaitu: a) Semut yang kecil; b) Debu yang terlihat beterbangan ketika terkena sinar matahari; c) Tanah yang tertinggal pada telapak tangan saat diangkat usai ditempelkan ke tanah. Ketiga penafsiran ini intinya menunjukkan sesuatu yang sangat kecil. 

Semua kebaikan akan dibalas oleh Allah. Meksipun di dunia tidak ada yang melihat dan bahkan ketika berbuat baik ternyata malah ada yang menentang dan memusuhi maka ingat Allah tidak lalai dari amal kebaikan yang kita lakukan. Ayat ini memotivasi untuk berbuat kebaikan meskipun hal tersebut remeh dan sepele. Rasulullah bersabda: 

فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ 

Berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan separuh kurma. Barangsiapa tidak memilikinya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik.”  (HR Bukhari 6539 dan Muslim 1016). 

Ayat 8: 

Firman Allah ta’ala: وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ “dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya”, semua kejelekan akan diperlihatkan dan dihisap oleh Allah meskipun sangat kecil. Allah Mahatahu atas semua perbuatan manusia. Bahkan juga apa yang ada dalam hati kita dan pandangan mata yang khianat itu semua Allah ketahui. 

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ  

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS Ghafir: 19)

Jangan meremehkan kejelekan sedikitpun Ada sebagian orang meremehkan dosa-dosa kecil. Padahal itu semua akan dihisab. Dan dosa-dosa kecil jika bertumpuk akan menjadi dosa besar. Rasulullah bersabda: 

إِيَّاكُمْ وَ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوِبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hati-hati kalian dari dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bila berkumpul pada diri seseorang akan membinasakannya.” (HR. Ahmad 3627, dishahihkan Ahmad Syakir) 

FAEDAH 

Syaikh Sa’di mengatakan: “Ayat ini secara umum mencangkup seluruh kebaikan dan keburukan. Karena, jika Allah melihat amal seberat dzarrah yang dianggap sesuatu yang remeh saja diberi balasan apalagi amalan yang lebih besar dari itu.” Beliau melanjutkan: “Ayat ini mengandung motivasi beramal kebaikan meskipun sedikit dan peringatan agar tidak melakukan keburukan meskipun remeh” (Tafsir As Sa’di).

Audio Tafsir Singkat Surat Al Zalzalah

Pemateri : Ustadz Dr Abu Zakariya Sutrisno


Sukoharjo, 13 Agustus 2020 

Artikel: hubbulkhoir.com 

Materi Tafsir Tahfidz Online Hubbul Khoir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here